Grazie, guys… :)

Kepalaku pusing. Rasanya seperti barusan mbolang. Kakiku lemas. Rasanya seperti habis nobar semalaman. Iya, semalam aku tidak bisa tidur. Entah karena memang insomniaku baru kambuh, atau karena masih terbebani bayang-bayang rasa bersalah.

Memang semalam aku nonton pertandingan Juventus berdua. Aku sengaja memasak masakan yang dia suka, membuatkan minuman favoritnya, membuat suasana menjadi menyenangkan untuknya. Dari dapur aku mendengar dia memainkan gitarnya sambil bersenandung lirih. Sepertinya memang suasana hatinya sedang nyaman sekali. Atau mungkin dia masih berbohong lagi?

Kami sempat bermain tebak skor. Aku menebak 8-1 untuk Juventus. Ternyata tebakanku begitu tepat. Tapi suamiku berbeda, dia tidak berminat menebak skor. Dia hanya ingin menikmati jalannya permainan saja. Sambil menonton, aku bertanya padanya, “Mas masih sedih nggak?”. Dan sambil tertawa dia malah meledekku, “Lho, bukannya kamu yang dari kemarin sedih?”. Benar juga, harusnya malah dia yang bertanya begitu padaku. Aku mengajukan pertanyaan lain, “Mas seneng nggak?”. Dia jawab, “Ya seneng lah, kan nonton sama istriku”. Aku hanya bisa menggigit bibir, berusaha sebisa mungkin menahan agar aku tidak menitikkan air mata lagi di depannya.

Aku malu. Seharusnya aku lebih kuat dari ini. Aku mendapatkan banyak semangat dan dukungan dari beberapa orang yang sempat membaca curhatanku sebelumnya. Mereka bilang, aku harus sabar. Padahal. Seharusnya mereka mengucapkan itu untuk suamiku, bukan aku. Karena justru aku yang membuat suamiku harus teruji kesabarannya.

khusnullutfiwordpresscom_grazie_jstoreid

khusnullutfiwordpresscom_grazie_mention

khusnullutfiwordpresscom_grazie_search

khusnullutfiwordpresscom_grazie_masaik

Ah, sepertinya curhatanku terlihat begitu menyayat hati bagi mereka. Terima kasih teman-teman, untuk semangatnya, dukungannya, juga ada yang mendoakan agar mendapat kesempatan yang lebih baik di lain waktu. Bahkan mas Aik, salah satu kreator koreo Juventini chapter Jogja, pembuat video yang berhasil menguras air mata itu, malah sampai menawarkan untuk menjadi member Juventini internasional. Luar biasa. Juventini Indonesia memang istimewa. Semua Juventini serasa seperti keluarga.

Kalau teringat malam itu, lucu-lucu sedih. Jika aku yang mengingatnya, rasanya ingin kembali menangis. Tapi kalau suamiku yang mengingatnya, dia pasti malah tertawa. Baru kali itu dia melihat aku menangis sekeras itu. Dia sampai khawatir kalau tetangga sampai mendengar tangisanku. Katanya aku lucu, seperti anak kecil. Dia sampai menggendongku dan punggungku di pukpuk, persis seperti menenangkan anak kecil yang sedang menangis. Dia bilang, mungkin nanti kalau kami punya anak akan mirip seperti aku. Ah, sejujurnya aku berharap lebih baik anak kami nanti mirip dia saja. Hehe..

Hari ini suamiku baru mulai masuk kantor setelah libur lebaran kemarin. Semangat bekerja ya, sayang. Sampai ketemu sore nanti, Loventus ku 🙂

Advertisements

Mi Dispiace, Sayang…

Hari ini aku merasa begitu bodoh. Aku menyesal. Aku sedih. Entah aku harus memulai cerita ini dari mana. Aku mengecewakan suamiku. Iya, padahal suamiku tidak pernah mengecewakanku. Aku membuatnya sedih. Sungguh. Aku sangat sedih karena telah membuatnya sedih. Aku menyesal telah membuatnya kecewa.

Mungkin orang lain melihat hal ini adalah hal yang sangat sepele. Tidak penting bahkan. Tapi, kalian tau? Setiap orang memiliki sebuah impian. Bahkan impian yang gila sekalipun. Dan aku baru saja membuat suamiku harus mengubur impiannya dalam-dalam. Harusnya aku lebih peka terhadap keadaan. Harusnya aku lebih memahaminya. Harusnya aku bisa sedikit lebih mengerti. Tapi kenapa aku tidak bisa?

Impiannya dari kecil. Iya, dari kecil. Dia sangat mengidolakan klub sepak bola Juventus. Segala tentang Juventus dia tau. Dan satu yang menjadi mimpinya adalah bisa melihat langsung para idolanya. Dan sekarang, aku membuatnya gagal mencapai mimpinya.

Suamiku ternyata bukanlah orang yang asertif. Aku kira dia akan mengungkapkan apa yang dia inginkan. Tapi ternyata, dia lebih memilih untuk diam daripada harus mengecewakan aku. Hey, aku tidak akan kecewa karena itu, sayang. Sungguh. Kenapa dia membiarkan aku merasa bersalah seperti ini?

Tadi malam. Ketika dia mengungkapkan betapa inginnya dia berangkat ke Jakarta. Seketika itu juga aku langsung menangis. Semalaman. Iya, semalaman. Sampai mataku bengkak. Bukan, maksudku, iya, aku memang cengeng. Tapi kali ini, aku memang menangis sejadi-jadinya. Aku menangis seperti anak berumur 5 tahun yang meminta maaf kepada ibunya karena baru saja membuat ibunya tersakiti. Aku merasa sakit ketika menatap wajahnya. Sorot matanya yang penuh kekecewaan, ketika dia hanya bisa melihat foto-foto dan video yang diunggah rekan-rekan Juventini Jogja yang sudah berangkat ke Jakarta. Betapa bahagianya mereka, itu pasti yang ada di pikiran suamiku waktu itu. Dan aku, hanya bisa menyesal. Iya, aku sangat menyesal.

Aku bertanya, apa dia sedih. Dia jawab, tidak. Aku tanya, apa dia kecewa. Dia jawab, iya, tapi hanya sedikit. Dalam tangisku, aku memarahinya. Kenapa dia masih saja pandai berbohong? Kenapa dia tidak pernah mengecewakanku? Tapi kenapa dia malah memberiku kesempatan untuk mengecewakannya? Atau aku yang terlalu bodoh?

Aku selalu menangis ketika melihat video ini. Satu video yang diunggah oleh official Juventus, saat Fernando Llorente menyaksikan koreo dari teman-teman Juventini chapter Jogja. Dan satu lagi, video yang dibuat oleh seorang Juventini Jogja yang tidak bisa berangkat ke Jakarta, dan hanya bisa membayangkan betapa bahagianya saat dia bisa bertemu langsung dengan para idolanya. Mungkin sama perasaannya, seperti suamiku sekarang. Dan, ya, sekarang aku kembali menangis.

 

Ya Tuhan, aku benar-benar memohon ampunanMu. Bukan, ini tidak berlebihan. Aku benar-benar menyesali semua ini. Kalau aku yang ada di posisi suamiku, mungkin aku sudah menangis merengek agar aku diperbolehkan berangkat ke Jakarta. Sayangnya suamiku tidak pandai merengek. Dia hanya pandai mencintaiku, dengan caranya sendiri.