Musim Hujan Ketiga

Terasa cepat, ternyata kita sudah kembali memasuki musim hujan. Dan siang ini, untuk pertama kalinya setelah semusim, kita berhujan-hujanan bersama. Dingin, segar, basah, menyenangkan. Kita tertawa sepanjang perjalanan. Seperti anak kecil yang baru pertama kali merasakan air hujan, kita seakan tidak peduli lagi dengan masuk angin dan semacamnya. Dan hujan kali ini turun sepanjang hari, sepanjang malam.

Ketika hujan turun di malam hari kita tidak akan menemukan pelangi di sana. Tapi sebagai gantinya, kita akan mendapatkan tidur yang seolah-olah diiringi musik klasik terbaik sepanjang malam. Dan malam ini, akhirnya selimutku kembali aku kenakan ketika tidur meskipun aku sedang baik-baik saja. Ya, aku menyebutnya …pengen baca lanjutannya…

Advertisements

Gerimis di Awal Januari

khusnullutfiwordpresscom_rainbirdApa yang paling kamu sukai dari antalogi rintik yang bernama gerimis? Suaranya yang gemerisik, butirannya yang memercik, atau basahnya yang menelisik? Kalau aku, paling suka dengan pesan yang disampaikannya. Pesan, yang kali ini berjodoh dengan bulan Januari.

***

Awal memang permulaan yang seringkali tak mudah. Seperti yang harus dihadapi Januari pada tahun ini. Hari-harinya dihiasi dengan gerimis. Ada yang sebagian, ada yang seperempat, ada juga yang sepenuhnya. Ada yang hanya gerimis, ada yang menderas menjadi hujan, ada pula yang membadai bersama angin. Pun bagi sebagian besar orang; memulai adalah salah satu perkerjaan paling sulit yang pernah ada. Ada yang tak pernah bisa untuk melakukannya. Ada yang tak tahu bagaimana caranya. Sebagian orang harus menempuhnya dengan paksa, diantara sebagian itu ada yang bisa mengubah paksa menjadi suka. Sebagian yang lainnya sampai akhir tetap terpaksa. Dan adakah yang paling melelahkan, selain melakukan sesuatu dengan terpaksa?

Tak ada yang lebih setia menemani hujan selain gerimis. Ia ada di awal, tengah dan juga akhir. Hanya durasi dan volumenya saja yang tak sama. Tapi gerimis selalu ada dalam prosesi hujan. Entah memulai, mendampingi atau mengakhiri. …pengen baca lanjutannya…

Hujan

Air langit sore ini membasahiku, membasahi tanah yang ku pijak, membasahi seluruh makhluk di sekitarku. Hujan memandikan tanah yang merindukan basah. Aku mulai ragu akan hadirmu yang tak kunjung memberikan kepastian. Penantianku mungkin tak terlalu berharga bagimu. Entah karena kau takut basah, atau karena aku bukanlah apa-apa untukmu. Aku hanya bisa merutuk. Kutatap air yang menggenang. Debu-debu yang tersapu, seolah mewakili rasa yang ku punya. Aku tahu, air mata yang bercampur hujan tak akan cukup mewakilkan kata tuk ungkapkan, betapa aku mendambakanmu. Namun hujan terlalu romantis untuk dihujat. Dan ku yakin, hujan sore ini sudi menemani penantianku hingga tak dapat lagi kulihat bayangan yang dihasilkan mentari.

Naphee’ – di tengah hujan yang memeluk dengan cinta