Astaghfirullah, inikah iri hati?

kusnullutfiwordpresscom_teaKetika sebuah persaingan tak lagi hanya sekedar ingin menjadi yang lebih baik dari yang lain. Ketika sebuah persaingan tak lagi hanya sekedar saling membanggakan keunggulan masing-masing. Ketika sebuah persaingan tak lagi hanya sekedar meraih lebih banyak prestasi. Tapi bagaimana jika sudah sampai kepada iri hati?

Aku selalu ikut senang ketika melihat temanku sukses. Bahagia dengan kehidupannya. Mencapai apa yang diimpikannya. Tapi dengan “anak itu”, entah kenapa, mungkin karena persaingan di antara kami yang sudah sedemikian rumit, sehingga setiap aku melihat suatu pencapaian yang dia dapatkan, bukan kalimat “selamat ya” atau “wah, keren banget”, tapi justru “ah, sial!”. Iya, seperti ada rasa semacam “tidak terima” yang aku alami. Kadang sampai membuat badmood seharian bahkan sampai sebelum tidurpun kepikiran tentang hal itu. Kenapa dia bisa seperti itu, tapi aku tidak?

Iya, seharusnya persaingan justru bisa membuat kita termotivasi, kan? Bukan malah membuat kita terpuruk atau merasa gagal. Tapi kenapa kadang perasaan seperti itu, jujur, masih menghampiri. Ah, ini memalukan sekali, sungguh. Aku merasa kalah dua kali. Pertama, karena aku kalah saing. Kedua, karena aku justru menjadi iri dengannya.

Suatu sore aku berbincang dengannya. Perbincangan kami masih menyenangkan seperti biasanya. Ya, kami memang seperti itu. Semua orang tau kami berdua bersaing, dalam hal apapun. Kami berdua selalu dibanding-bandingkan. Tapi kami sangat akur bahkan seperti saudara sendiri. …pengen baca lanjutannya…

Advertisements

Sobat Garkun, sahabat paling gila sedunia

Entah roh macam apa yang sudah merasuki diri ini sampai-sampai aku sudi menuliskan postingan seperti ini. Ketika aku termenung, tiba-tiba aku teringat mereka. Iya, anak-anak yang setengah gila itu. Mungkin karena efek setiap hari bertemu dengan wajah-wajah yang seolah-olah tanpa dosa padahal penuh prahara itu, justru membuatku sering merindukan mereka. Emm… apa? Merindukan mereka? Hmm… baiklah, iya. Mereka memang lama-lama ngangenin juga.

Garis Kuning adalah sebuah grup gila yang beranggotakan beberapa orang gila di dalamnya. Awal mula berdirinya hanya sebuah keisengan belaka. Berawal dari grup di WhatsApp yang dibuat pada tanggal 13 November 2012 dengan nama “Di Belakang Garis Kuning” dan baru berisikan beberapa gelintir manusia saja. Setelah itu sempat berganti nama menjadi “Yellow Line”, dan sampai sekarang menjadi “Garis Kuning”. Dan kamipun punya sebutan untuk para anggota yang gila itu. Dengan bangga kami sebut diri kami, “Sobat Garkun” 🙂

Selain grup di WhatsApp, grup ini juga sudah merambah ke aplikasi lain. Garis Kuning juga hadir di grup BBM, juga grup Line dengan nama “Yellow Line”. Tapi kedua grup ini nampaknya kurang diminati oleh sobat Garkun. Tetapi ada  salah satu franchise Garkun yang juga tidak kalah ramai dengan grup WhatsApp, yaitu grup chat di Facebook, dengan nama “Garkunchat”. …pengen baca lanjutannya…

Memasuki Bulan ke-9

Ada yang spesial? Mungkin tidak, tapi bagiku sepertinya menjadi iya. Emm… atau mungkin spesial juga bagi sebagian orang yang menerima “sesuatu” setiap tanggal 1 di tiap bulannya? Hihihi…

Tanggal 1 September 2014, tepat 8 bulan pernikahan aku dan mamas. 8 bulan yang lalu, 1 Januari 2014, kami disaksikan ratusan orang untuk saling mengikat janji. Ah, aku selalu terharu ketika mengingat masa itu. Aku teringat wajahnya yang begitu tegang, sulit untuk tersenyum dan diajak bercanda. Baiklah, bukan cuma dia, tapi aku juga. Ya, kami berdua.

8 bulan mungkin masih terlalu singkat bagi sebagian orang. Tapi tidak bagi kami. Karena kami berdua benar-benar menikmati apa yang selama ini kami jalani berdua. Meski kadang …pengen baca lanjutannya…

Stereogram, Mainan Sewaktu Kecil

Ada yang tau stereogram? Mungkin belum banyak yang tau tentang stereogram. Stereogram adalah merupakan salah satu ilusi optik yang menyajikan gambar 2D yang biasanya berbentuk abstrak, tapi di balik gambar tersebut ada bentuk tersembunyi yang terlihat seperti gambar 3D. Istilah gampangnya, gambar rahasia di dalam gambar. Memang, sangat susah menjelaskan apa itu stereogram. Bagi yang belum tau mungkin akan bingung melihat gambar nggak jelas yang acak-acakan. Tapi ketika berhasil menemukan gambar rahasia di balik gambar itu, pasti bakal ketagihan. Dijamin. 😀

Cara mainnya cukup mudah sebenernya, tapi lagi-lagi, susah untuk dijelaskan. Dan biasanya setiap orang memiliki cara sendiri untuk membaca gambar stereogram. Cara paling simple, fokuskan pikiran. Dekatkan gambar dengan mata kira-kira 3 cm atau sampai gambar menempel dengan hidung. Jauhkan gambar dari mata secara perlahan. Kaburkan pandangan. Kalau berhasil, gambar akan muncul di suatu ruangan di dalam gambar. Tingkat …pengen baca lanjutannya…

Grazie, guys… :)

Kepalaku pusing. Rasanya seperti barusan mbolang. Kakiku lemas. Rasanya seperti habis nobar semalaman. Iya, semalam aku tidak bisa tidur. Entah karena memang insomniaku baru kambuh, atau karena masih terbebani bayang-bayang rasa bersalah.

Memang semalam aku nonton pertandingan Juventus berdua. Aku sengaja memasak masakan yang dia suka, membuatkan minuman favoritnya, membuat suasana menjadi menyenangkan untuknya. Dari dapur aku mendengar dia memainkan gitarnya sambil bersenandung lirih. Sepertinya memang suasana hatinya sedang nyaman sekali. Atau mungkin dia masih berbohong lagi?

Kami sempat bermain tebak skor. Aku menebak 8-1 untuk Juventus. Ternyata tebakanku begitu tepat. Tapi suamiku berbeda, dia tidak berminat menebak skor. Dia hanya ingin menikmati jalannya permainan saja. Sambil menonton, aku bertanya padanya, “Mas masih sedih nggak?”. Dan sambil tertawa dia malah meledekku, “Lho, bukannya kamu yang dari kemarin sedih?”. Benar juga, harusnya malah dia yang bertanya begitu padaku. Aku mengajukan pertanyaan lain, “Mas seneng nggak?”. Dia jawab, “Ya seneng lah, kan nonton sama istriku”. Aku hanya bisa menggigit bibir, berusaha sebisa mungkin menahan agar aku tidak menitikkan air mata lagi di depannya.

Aku malu. Seharusnya aku lebih kuat dari ini. Aku mendapatkan banyak semangat dan dukungan dari beberapa orang yang sempat membaca curhatanku sebelumnya. Mereka bilang, aku harus sabar. Padahal. Seharusnya mereka mengucapkan itu untuk suamiku, bukan aku. Karena justru aku yang membuat suamiku harus teruji kesabarannya.

khusnullutfiwordpresscom_grazie_jstoreid

khusnullutfiwordpresscom_grazie_mention

khusnullutfiwordpresscom_grazie_search

khusnullutfiwordpresscom_grazie_masaik

Ah, sepertinya curhatanku terlihat begitu menyayat hati bagi mereka. Terima kasih teman-teman, untuk semangatnya, dukungannya, juga ada yang mendoakan agar mendapat kesempatan yang lebih baik di lain waktu. Bahkan mas Aik, salah satu kreator koreo Juventini chapter Jogja, pembuat video yang berhasil menguras air mata itu, malah sampai menawarkan untuk menjadi member Juventini internasional. Luar biasa. Juventini Indonesia memang istimewa. Semua Juventini serasa seperti keluarga.

Kalau teringat malam itu, lucu-lucu sedih. Jika aku yang mengingatnya, rasanya ingin kembali menangis. Tapi kalau suamiku yang mengingatnya, dia pasti malah tertawa. Baru kali itu dia melihat aku menangis sekeras itu. Dia sampai khawatir kalau tetangga sampai mendengar tangisanku. Katanya aku lucu, seperti anak kecil. Dia sampai menggendongku dan punggungku di pukpuk, persis seperti menenangkan anak kecil yang sedang menangis. Dia bilang, mungkin nanti kalau kami punya anak akan mirip seperti aku. Ah, sejujurnya aku berharap lebih baik anak kami nanti mirip dia saja. Hehe..

Hari ini suamiku baru mulai masuk kantor setelah libur lebaran kemarin. Semangat bekerja ya, sayang. Sampai ketemu sore nanti, Loventus ku 🙂

Mi Dispiace, Sayang…

Hari ini aku merasa begitu bodoh. Aku menyesal. Aku sedih. Entah aku harus memulai cerita ini dari mana. Aku mengecewakan suamiku. Iya, padahal suamiku tidak pernah mengecewakanku. Aku membuatnya sedih. Sungguh. Aku sangat sedih karena telah membuatnya sedih. Aku menyesal telah membuatnya kecewa.

Mungkin orang lain melihat hal ini adalah hal yang sangat sepele. Tidak penting bahkan. Tapi, kalian tau? Setiap orang memiliki sebuah impian. Bahkan impian yang gila sekalipun. Dan aku baru saja membuat suamiku harus mengubur impiannya dalam-dalam. Harusnya aku lebih peka terhadap keadaan. Harusnya aku lebih memahaminya. Harusnya aku bisa sedikit lebih mengerti. Tapi kenapa aku tidak bisa?

Impiannya dari kecil. Iya, dari kecil. Dia sangat mengidolakan klub sepak bola Juventus. Segala tentang Juventus dia tau. Dan satu yang menjadi mimpinya adalah bisa melihat langsung para idolanya. Dan sekarang, aku membuatnya gagal mencapai mimpinya.

Suamiku ternyata bukanlah orang yang asertif. Aku kira dia akan mengungkapkan apa yang dia inginkan. Tapi ternyata, dia lebih memilih untuk diam daripada harus mengecewakan aku. Hey, aku tidak akan kecewa karena itu, sayang. Sungguh. Kenapa dia membiarkan aku merasa bersalah seperti ini?

Tadi malam. Ketika dia mengungkapkan betapa inginnya dia berangkat ke Jakarta. Seketika itu juga aku langsung menangis. Semalaman. Iya, semalaman. Sampai mataku bengkak. Bukan, maksudku, iya, aku memang cengeng. Tapi kali ini, aku memang menangis sejadi-jadinya. Aku menangis seperti anak berumur 5 tahun yang meminta maaf kepada ibunya karena baru saja membuat ibunya tersakiti. Aku merasa sakit ketika menatap wajahnya. Sorot matanya yang penuh kekecewaan, ketika dia hanya bisa melihat foto-foto dan video yang diunggah rekan-rekan Juventini Jogja yang sudah berangkat ke Jakarta. Betapa bahagianya mereka, itu pasti yang ada di pikiran suamiku waktu itu. Dan aku, hanya bisa menyesal. Iya, aku sangat menyesal.

Aku bertanya, apa dia sedih. Dia jawab, tidak. Aku tanya, apa dia kecewa. Dia jawab, iya, tapi hanya sedikit. Dalam tangisku, aku memarahinya. Kenapa dia masih saja pandai berbohong? Kenapa dia tidak pernah mengecewakanku? Tapi kenapa dia malah memberiku kesempatan untuk mengecewakannya? Atau aku yang terlalu bodoh?

Aku selalu menangis ketika melihat video ini. Satu video yang diunggah oleh official Juventus, saat Fernando Llorente menyaksikan koreo dari teman-teman Juventini chapter Jogja. Dan satu lagi, video yang dibuat oleh seorang Juventini Jogja yang tidak bisa berangkat ke Jakarta, dan hanya bisa membayangkan betapa bahagianya saat dia bisa bertemu langsung dengan para idolanya. Mungkin sama perasaannya, seperti suamiku sekarang. Dan, ya, sekarang aku kembali menangis.

 

Ya Tuhan, aku benar-benar memohon ampunanMu. Bukan, ini tidak berlebihan. Aku benar-benar menyesali semua ini. Kalau aku yang ada di posisi suamiku, mungkin aku sudah menangis merengek agar aku diperbolehkan berangkat ke Jakarta. Sayangnya suamiku tidak pandai merengek. Dia hanya pandai mencintaiku, dengan caranya sendiri.

Shalat Ied tahun ini, beda…

Biasanya shalat ied jam 7 baru mulai. Sekarang jam 7 udah kelar shalatnya.

Biasanya shalat ied ngadep jalan raya. Sekarang ngadep kebun, rumpun bambu, pohon jati.

Biasanya lapangannya pasir. Sekarang lapangannya rumput.

Biasanya abis shalat ied dengerin khotbah sambil ngitung balon udara. Sekarang, ada sih balon, tapi paling cuma balon putus yang bentuknya spongebob, nemo, atau angry bird. Balon sejuta umat yang selalu hadir di setiap acara.

Biasanya pulang dari lapangan denger suara petasan dimana-mana. Sekarang dengernya suara air aquarium.

Biasanya jam segini lagi muter bareng keluarga besar. Sekarang lagi di perjalanan.

Sekarang semuanya beda. Nggak kaya’ biasanya.

:’)

 

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1435 H

Begitu berbeda. Takbiran tahun ini dilalui bukan lagi bersama ibuk, tapi bersama suami. Mengawali bulan ramadhan hanya berdua dengan suami, dan mengakhirinya pun berdua. Hanya berdua.

Tahun ini juga nggak bisa ikut pesta kembang api di lapangan SD. Apa kabar Faiz, berangkat takbir keliling sama siapa dia malem ini ya. Disini takbiran sepi, nggak ada kembang api, apalagi petasan. Yang ada takbir keliling juga di kampung sebelah. Rasanya jadi pengen ikutan takbir keliling di kampung sebelah. Tapi kalo disini takbiran keliling ada kereta mini juga. hehe..

Terlalu banyak mengeluarkan air mata ternyata bikin ngantuk. Tidur cepet aja kali ya, siap2 besok shalat ied jam 6 (iya pagi bgt, mandi jam segitu kaya’ apa dinginnya coba).

Taqabbalallaahu minna wa minkum. Selamat hari raya Idul Fitri. Mohon maaf lahir batin.

:’)

Nama Sebuah Bunga

Jika itu adalah suatu hal yang sederhana, aku bertanya-tanya kenapa aku tidak bisa mengatakannya? Jika itu sesuatu yang tidak bisa ku katakan, aku bertanya-tanya bagaimana aku akan mengungkapkannya? Bahkan jika aku melupakan langit yang kita lihat bersama, aku tidak akan lupa bahwa kita sedang bersama.

Jika kau adalah bunga, mungkin kau tidak jauh berbeda dari yang lain. Dari mereka, ku pilih satu. Untukku, dan untukmu. Ada satu lagu dimana hanya aku yang bisa menyanyikannya, dan hanya kamu yang bisa mendengarkannya. Aku berada di sini adalah bukti bahwa kau ada di sini. Karena lagu yang ku tinggalkan di sini adalah bukti bahwa aku pernah di sini bersamamu.
…pengen baca lanjutannya…

Kacaunya 2014 di Negeri Ini

Sedih rasanya, melihat kondisi bangsa kita saat ini. Carut-marut tidak karuan, terpecah belah seolah tidak bisa lagi diselamatkan. Antar kubu saling menyerang, saling menjatuhkan, saling menjelekkan, bahkan kadang sampai menempuh berbagai cara untuk mengalahkan kubu lawan.

Apakah ini semua gara-gara pemilu? Mungkin sebagian iya, tapi tidak semua. Sepertinya memang banyak orang yang sudah saling serang sebelumnya, dan menjadi semakin memanas dengan adanya “moment-yang-katanya-pesta-demokrasi” ini. Tapi maaf, apanya yang disebut pesta, jika hanya menghasilkan huru-hara?
…pengen baca lanjutannya…