Kabar Gembira Berisi Kabar Duka?

khusnullutfiwordpresscom_penjualkoranAda seorang anak kecil, terlihat sangat lelah, lapar, dan masih harus bekerja menjual koran di lampu merah. Tiba-tiba ada bapak-bapak, gemuk, terlihat sangat kaya dengan jas hitam dan mobil mewahnya. Sebenarnya bapak ini sudah sejak lama melihat anak itu di lampu merah. Tapi entah kenapa, tiba-tiba kali ini si Bapak kaya mendekati si Anak kecil.

“Kamu kasihan sekali,” kata Bapak kaya. “Aku kagum dengan perjuanganmu. Aku selalu memperhatikanmu selama ini bekerja keras menjual koran. Pekerjaanmu sungguh mulia. Kamu membuat banyak orang jadi tahu berita. Tapi, sayangnya hidupmu susah. Aku sangat kasihan melihatmu.”

“Terima kasih atas perhatiannya pak,” si Anak tersanjung. “Tapi kalau Bapak selama ini melihat saya berjuang, dan kasihan dengan saya, kenapa Bapak tidak pernah membeli koran saya?”

Bapak kaya itu malu dilihat orang. Dia mungkin merasa gengsi. Masa’ orang kaya, beli koran saja tidak bisa. Akhirnya, agar tetap terlihat wibawa, Bapak kaya mengatakan kepada Anak kecil.

“Nak, atas perjuanganmu selama ini, aku akan memberimu hadiah. Aku akan memberimu makan enak tiap hari. Kamu mau?”

“Wah, jelas mau pak. Terima kasih banyak.” Si Anak sangat senang. Bahkan dia sudah tidak sabar ingin mendapatkan makanan yang dijanjikan si Bapak kaya. “Mulai kapan saya akan mendapatkan makan enak, pak?”

Bapak kaya tertawa. Dia menepuk-nepuk punggung si Anak kecil. “Mari aku tunjukkan caranya.”

Akhirnya si Anak kecil diajak Bapak kaya menuju sebuah sawah yang luas. Di sebelahnya ada ladang yang tidak kalah luas. Si Bapak kaya menunjuk sawah dan ladang di depan mereka.

“Nah, kamu lihat sawah dan ladang itu? Silakan kamu bekerja di sana. Kamu tanami sawah dengan padi yang bagus. Kamu tanami ladang dengan sayur-sayuran. Kamu juga bisa memelihara berbagai hewan ternak di sana. Nanti jika sudah ada hasilnya, kamu serahkan semuanya kepada saya. Setelah itu, kamu akan saya beri makan enak tiap hari.”

Si Anak kecil sangat terkejut. “Tapi, saya bisa dapat semua itu dari mana pak? Saya kan tidak punya uang. Bapak tahu sendiri penghasilan saya sebagai penjual koran selama ini tidak seberapa. Bagaimana saya bisa membeli bibit padi, sayuran, bahkan binatang ternak?”

“Ya itu terserah kamu. Yang penting kamu kasih saya hasil panen yang banyak, maka setelah itu saya akan kasih kamu makan enak tiap hari.” Kata Bapak kaya dengan sombongnya.

Akhirnya si Anak kecil menangis terisak. Dia sudah mengira bahwa si Bapak kaya sangat baik padanya dengan menjanjikan makan enak tiap hari. Tapi ternyata, sebelum ia bisa mendapatkannya, begitu besar modal yang harus dia keluarkan. Si Anak kecil hanya bisa terduduk lemas. Dan dia masih lapar…

***

Eits, panjang juga ya ceritanya. Maaf, ini bukan dongeng. Entah kenapa tiba-tiba di otak saya terbersit cerita ini, ketika beberapa hari belakangan teman-teman saya, kakak saya, bahkan suami saya, mereka sedang kebingungan. Ada kabar gembira yang berisi kabar duka. Ah, apalah ini. Entah berita macam apa sebenarnya.

Dinamakan berita apa menurut kalian, ketika para Guru, yang kita tahu selama ini sebagai “Pahlawan tanpa tanda jasa” tiba-tiba diperhatikan oleh pemerintah. Betapa bahagianya para guru. Pemerintah akan memberikan dana sertifikasi, dimana tunjangan yang didapat cukup besar (mungkin tidak terlalu besar jika dilihat dari sudut pandang pejabat). Dan ketika berita gembira itu menggemparkan dunia pendidikan, tiba-tiba mereka harus kembali dikejutkan dengan berita bahwa syarat untuk mendapatkannya adalah, para guru harus kuliah Pendidikan Profesi Guru selama 1 tahun. Dengan harga yang tidak murah tentunya. Berapa? 15 juta.

Bagi para pejabat, angka itu pastilah kecil. Tapi bagi para guru, angka 15 juta tentunya sangat besar. Dari mana mereka mendapatkan uang sebegitu banyak sedangkan gaji mereka selama ini, apalagi bagi para guru non PNS, pastinya tidak akan mudah mendapatkan “modal” sebanyak 15 juta. Dan, hei, mereka sudah menjadi guru bahkan dari bertahun-tahun yang lalu. Dan para guru masih harus kuliah pendidikan untuk menjadi guru? Lalu kuliah S1 Pendidikan mereka selama ini? Akta IV yang mereka miliki selama ini? Pengalaman mengajar mereka selama ini? Errrwh… saya benar-benar masih gagal faham.

Saya tidak akan berani bicara banyak mengenai ekonomi maupun politik di sini. Karena memang saya tidak terlalu faham tentang itu. Saya hanya melihat dari mata saya sendiri sebagai masyarakat awam. Saya bukan guru. Tapi suami saya seorang guru. Ibu saya seorang guru. Kakak saya seorang guru. Teman-teman dan saudara saya buaanyak yang menjadi guru. Dan kita tidak tahu bagaimana nantinya nasib para SPd tanpa PPG. Bahkan bisa jadi peraturan akan berubah lagi besok pagi.

Di sini saya tidak menganalogikan siapa dengan siapa. Saya hanya menceritakan dongeng yang ada di kepala saya saja.

Dan… Ah, sepertinya “Bapak kaya” memang suka bercanda.

 

Jogja, 7 April 2016

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s