Astaghfirullah, inikah iri hati?

kusnullutfiwordpresscom_teaKetika sebuah persaingan tak lagi hanya sekedar ingin menjadi yang lebih baik dari yang lain. Ketika sebuah persaingan tak lagi hanya sekedar saling membanggakan keunggulan masing-masing. Ketika sebuah persaingan tak lagi hanya sekedar meraih lebih banyak prestasi. Tapi bagaimana jika sudah sampai kepada iri hati?

Aku selalu ikut senang ketika melihat temanku sukses. Bahagia dengan kehidupannya. Mencapai apa yang diimpikannya. Tapi dengan “anak itu”, entah kenapa, mungkin karena persaingan di antara kami yang sudah sedemikian rumit, sehingga setiap aku melihat suatu pencapaian yang dia dapatkan, bukan kalimat “selamat ya” atau “wah, keren banget”, tapi justru “ah, sial!”. Iya, seperti ada rasa semacam “tidak terima” yang aku alami. Kadang sampai membuat badmood seharian bahkan sampai sebelum tidurpun kepikiran tentang hal itu. Kenapa dia bisa seperti itu, tapi aku tidak?

Iya, seharusnya persaingan justru bisa membuat kita termotivasi, kan? Bukan malah membuat kita terpuruk atau merasa gagal. Tapi kenapa kadang perasaan seperti itu, jujur, masih menghampiri. Ah, ini memalukan sekali, sungguh. Aku merasa kalah dua kali. Pertama, karena aku kalah saing. Kedua, karena aku justru menjadi iri dengannya.

Suatu sore aku berbincang dengannya. Perbincangan kami masih menyenangkan seperti biasanya. Ya, kami memang seperti itu. Semua orang tau kami berdua bersaing, dalam hal apapun. Kami berdua selalu dibanding-bandingkan. Tapi kami sangat akur bahkan seperti saudara sendiri.

“Aku pengen ngomong jujur sama kamu” aku membuka pembicaraan yang menurutku agak ke arah yang lebih serius.

“Apa?” sambil menyeruput tehnya dia melirikku.

“Kayaknya aku udah mulai iri sama kamu” dia terdiam sejenak, lalu tertawa.

“Apanya? Apa yang bikin kamu iri sama aku?”

“Ya pencapaian kamu selama ini. Prestasi kamu selama ini. Dan kamu tau, semua orang sekarang menganggap kamu lebih oke dari aku”

Dia tertawa lagi. “Hmm… iya, iya. Kayaknya sudah waktunya aku juga harus ngomong jujur sama kamu” dia menyeruput tehnya sekali lagi. “Selama ini, justru kamu yang selalu bikin aku iri sama kamu”.

“Tapi prestasi kamu sekarang lebih terlihat keren, kan?”

“Coba, sejak kapan kamu lihat aku mencapai apa yang aku inginkan? Sedangkan kamu? Kamu bahkan sudah banyak prestasi dari kecil. Semua orang selalu memuji kamu. Dan itu bener-bener bikin aku iri sama kamu. Banget. Hahaha…”

“Ya, tapi sekarang nggak ada prestasi apa-apa yang aku dapetin. Berarti aku nggak berkembang selama ini”

“Lho, prestasi-prestasi kamu itu yang bikin aku jadi seperti sekarang. Aku capek dari dulu selalu dibandingin sama kamu, dan aku selalu kalah. Tapi bahkan sampai sekarang kamu nggak pernah kalah dari aku. Setiap aku dapet sesuatu, pasti ada aja hal baru yang bisa kamu tunjukin ke aku. Dan kamu selalu begitu, kamu nggak pernah membanggakan diri kamu sementara orang-orang di sekitar kamu sedang bangga sama kamu. Aku harus berusaha mati-matian buat membuktikan kalau aku nggak lebih payah dari kamu. Dan kamu, kamu nggak perlu membuktikan apapun untuk itu semua.” Tatapan matanya mulai berubah menjadi serius. “Aku bisa melakukan hal-hal yang nggak bisa kamu lakuin. Tapi kamu tau, juga banyak hal yang udah kamu dapetin, yang nggak bisa aku dapetin. Itu yang bikin aku selalu lakuin hal-hal yang menurutku nggak akan mau kamu lakuin. Biar aku nggak kalah-kalah amat dari kamu. Hahaha…”

“Ah, sial.” aku tersenyum.

“Dan kamu tau, satu hal yang bikin aku iri banget sama kamu, sampai sekarang. Ini memalukan, tapi ini bener-bener ganggu pikiran aku selama ini.” Raut wajahnya agak berubah, aku tau itu. Aku masih menunggunya mengungkapkan sesuatu yang sepertinya masih tertahan. Cukup lama dia terdiam.

“Kamu udah nikah. Aku lihat kamu kayaknya bahagia banget sekarang. Sedangkan aku, pacarku sampe sekarang belum mau ngelamar aku.”

“Hahaha…” kali ini aku yang benar-benar tertawa mendengar pengakuannya.

“Hey, ini serius! Ih, sebel!”

“Oke,oke. Kalo itu kamu anggap sebagai sebuah prestasi, aku sangat mengucapkan terima kasih” Kami tertawa.

Tak terasa matahari sudah turun sekali, hampir mendekati maghrib. Setelah ini aku harus mendapatkan pelajaran baru. Aku tidak ingin perbincangan kami kali ini sia-sia. Ya Allah, jauhkan aku dari sifat suka mengeluh, sering berprasangka, dan iri hati. Jadikan aku manusia yang lebih berkualitas. Jadikan aku orang yang lebih bermanfaat bagi orang lain.

Setelah menghabiskan tegukan terakhirnya, dia meletakkan cangkirnya. “Dan kamu tau, prestasimu dalam hal membuat teh, masih kalah dari aku. Teh bikinanmu selalu kurang manis”.

“Sengaja. Kamu harusnya sadar. Badan segendut itu harus hati-hati sama yang manis-manis. Hati-hati juga sama diabetes.”

“Dih, nggak terima. Gendutnya kita kan sama.”

“Enggak lah, enak aja. Aku masih muat pake baju ukuran M, kamu kan minimal L.”

“Sumpah kamu nyebelin. Hahaha…” Kami tertawa bersama.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s