Happy Birthloween Day!

Iya, hari ini adalah hari Halloween. Pasti tau donk, Halloween itu apa. Bagi yang belum tau, bisa buka di sini. Seru juga pas buka Google hari ini, soalnya Google Doodle hari ini banyak banget, macem-macem. Tiap di refresh beda lagi doodle yang keluar. Lucu-lucu deh. Dan tentunya dengan animasi yang bikin gemes. :mrgreen:

Nih, beberapa doodle hari ini yang berhasil diamankan.

khusnullutfiwordpresscom_doodle1

Ketika di play akan jadi animasi yang lucu-lucu kaya’ gini. 😀

khusnullutfiwordpresscom_doodle2

khusnullutfiwordpresscom_doodle3
…pengen baca lanjutannya…

Rok mini, salah siapa?

khusnullutfiwordpresscom_hotpantsIni bukanlah tulisan saya sendiri, melainkan tulisan salah seorang pengguna Facebook, entah siapa, yang sudah disebarkan sebanyak ribuan kali oleh para pengguna Facebook yang lain. Kenapa saya masukkan di sini, karena ini menarik untuk dicermati. Hampir bisa dipastikan, bahwa ribuan orang di luar sana akan setuju dengan apa yang diungkapkan oleh beliau ini. Dengan bahasa yang ringan, namun cukup bisa “menampar” para pengguna rok mini, hot pants, atau semacamnya. Saya sebagai seorang perempuan saja risih jika melihat para perempuan yang senang mengumbar auratnya. Na’udzubillaah… Berikut tulisannya.

=======================================================================

Soal rok mini ini memang menggelitik. Saya sendiri di dalam dilema yang besar. Alasannya, pertama karena saya laki-laki. Kedua, karena saya belum pernah memakai rok mini. Sebagai orang berpendidikan, saya khawatir perspektif saya terhadap rok mini ini menjadi sangat subyektif, dipenuh asumsi, dan ngawur.

Tapi sebenarnya saya selalu ingin mengajukan pertanyaan kepada setiap pengguna rok mini atau celana super pendek di area publik demi mendapat sudut pandang yang obyektif dari si pemakai agar saya tidak salah sangka:
1. “Mbak-mbak, boleh tau apakah dengan rok mini yang mbak pakai itu, saya atau kami boleh menikmati paha mbak?”
2. “Kalau boleh, apakah mbak memang sengaja agar kami melihatnya? atau malah risih kalau kami melihatnya?”
3. “Atau tolong jelaskan kepada kami, bagaimana seharusnya kami boleh menikmati paha mbaknya biar mbak merasa nyaman dan kita bisa sama-sama menikmati, agar saya merasa aman dalam menikmati, dan mbaknya nikmat juga dilihati?” …pengen baca lanjutannya…

Apa kabar sayang?

Bukan, kali ini Naphee’ bukan sedang ingin curhat secara pribadi, atau menuliskan cerpen fiksi. Lebih kepada ungkapan suatu kekaguman terhadap sebuah karya. Salah satu lagu favorit yang sangat menyentuh dan menguras air mata. Tidak begitu berlebihan kurasa, karena memang lagu ini berbeda dari lagu-lagu kebanyakan di luar sana.

Apa Kabar Sayang. Salah satu lagu milik band Armada yang begitu menyentuh. Entah kenapa. Aku merasa lagu ini bukan lagu biasa. Pertama kali aku mendengar lagu ini, aku langsung suka. Dan setiap kali aku ikut menyanyikan lagu ini, pasti rasanya sedih banget dan pengen nangis. ENTAH KENAPA. Berasa sedihnya beda dari lagu-lagu lainnya. Lagu ini bisa membuatku semakin merindukan orang-orang yang aku sayang. Suami, kakak, ibu, dan yang paling aku rindukan selama ini, almarhun ayahku. …pengen baca lanjutannya…

Astaghfirullah, inikah iri hati?

kusnullutfiwordpresscom_teaKetika sebuah persaingan tak lagi hanya sekedar ingin menjadi yang lebih baik dari yang lain. Ketika sebuah persaingan tak lagi hanya sekedar saling membanggakan keunggulan masing-masing. Ketika sebuah persaingan tak lagi hanya sekedar meraih lebih banyak prestasi. Tapi bagaimana jika sudah sampai kepada iri hati?

Aku selalu ikut senang ketika melihat temanku sukses. Bahagia dengan kehidupannya. Mencapai apa yang diimpikannya. Tapi dengan “anak itu”, entah kenapa, mungkin karena persaingan di antara kami yang sudah sedemikian rumit, sehingga setiap aku melihat suatu pencapaian yang dia dapatkan, bukan kalimat “selamat ya” atau “wah, keren banget”, tapi justru “ah, sial!”. Iya, seperti ada rasa semacam “tidak terima” yang aku alami. Kadang sampai membuat badmood seharian bahkan sampai sebelum tidurpun kepikiran tentang hal itu. Kenapa dia bisa seperti itu, tapi aku tidak?

Iya, seharusnya persaingan justru bisa membuat kita termotivasi, kan? Bukan malah membuat kita terpuruk atau merasa gagal. Tapi kenapa kadang perasaan seperti itu, jujur, masih menghampiri. Ah, ini memalukan sekali, sungguh. Aku merasa kalah dua kali. Pertama, karena aku kalah saing. Kedua, karena aku justru menjadi iri dengannya.

Suatu sore aku berbincang dengannya. Perbincangan kami masih menyenangkan seperti biasanya. Ya, kami memang seperti itu. Semua orang tau kami berdua bersaing, dalam hal apapun. Kami berdua selalu dibanding-bandingkan. Tapi kami sangat akur bahkan seperti saudara sendiri. …pengen baca lanjutannya…