Mi Dispiace, Sayang…

Hari ini aku merasa begitu bodoh. Aku menyesal. Aku sedih. Entah aku harus memulai cerita ini dari mana. Aku mengecewakan suamiku. Iya, padahal suamiku tidak pernah mengecewakanku. Aku membuatnya sedih. Sungguh. Aku sangat sedih karena telah membuatnya sedih. Aku menyesal telah membuatnya kecewa.

Mungkin orang lain melihat hal ini adalah hal yang sangat sepele. Tidak penting bahkan. Tapi, kalian tau? Setiap orang memiliki sebuah impian. Bahkan impian yang gila sekalipun. Dan aku baru saja membuat suamiku harus mengubur impiannya dalam-dalam. Harusnya aku lebih peka terhadap keadaan. Harusnya aku lebih memahaminya. Harusnya aku bisa sedikit lebih mengerti. Tapi kenapa aku tidak bisa?

Impiannya dari kecil. Iya, dari kecil. Dia sangat mengidolakan klub sepak bola Juventus. Segala tentang Juventus dia tau. Dan satu yang menjadi mimpinya adalah bisa melihat langsung para idolanya. Dan sekarang, aku membuatnya gagal mencapai mimpinya.

Suamiku ternyata bukanlah orang yang asertif. Aku kira dia akan mengungkapkan apa yang dia inginkan. Tapi ternyata, dia lebih memilih untuk diam daripada harus mengecewakan aku. Hey, aku tidak akan kecewa karena itu, sayang. Sungguh. Kenapa dia membiarkan aku merasa bersalah seperti ini?

Tadi malam. Ketika dia mengungkapkan betapa inginnya dia berangkat ke Jakarta. Seketika itu juga aku langsung menangis. Semalaman. Iya, semalaman. Sampai mataku bengkak. Bukan, maksudku, iya, aku memang cengeng. Tapi kali ini, aku memang menangis sejadi-jadinya. Aku menangis seperti anak berumur 5 tahun yang meminta maaf kepada ibunya karena baru saja membuat ibunya tersakiti. Aku merasa sakit ketika menatap wajahnya. Sorot matanya yang penuh kekecewaan, ketika dia hanya bisa melihat foto-foto dan video yang diunggah rekan-rekan Juventini Jogja yang sudah berangkat ke Jakarta. Betapa bahagianya mereka, itu pasti yang ada di pikiran suamiku waktu itu. Dan aku, hanya bisa menyesal. Iya, aku sangat menyesal.

Aku bertanya, apa dia sedih. Dia jawab, tidak. Aku tanya, apa dia kecewa. Dia jawab, iya, tapi hanya sedikit. Dalam tangisku, aku memarahinya. Kenapa dia masih saja pandai berbohong? Kenapa dia tidak pernah mengecewakanku? Tapi kenapa dia malah memberiku kesempatan untuk mengecewakannya? Atau aku yang terlalu bodoh?

Aku selalu menangis ketika melihat video ini. Satu video yang diunggah oleh official Juventus, saat Fernando Llorente menyaksikan koreo dari teman-teman Juventini chapter Jogja. Dan satu lagi, video yang dibuat oleh seorang Juventini Jogja yang tidak bisa berangkat ke Jakarta, dan hanya bisa membayangkan betapa bahagianya saat dia bisa bertemu langsung dengan para idolanya. Mungkin sama perasaannya, seperti suamiku sekarang. Dan, ya, sekarang aku kembali menangis.

 

Ya Tuhan, aku benar-benar memohon ampunanMu. Bukan, ini tidak berlebihan. Aku benar-benar menyesali semua ini. Kalau aku yang ada di posisi suamiku, mungkin aku sudah menangis merengek agar aku diperbolehkan berangkat ke Jakarta. Sayangnya suamiku tidak pandai merengek. Dia hanya pandai mencintaiku, dengan caranya sendiri.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s