Makasih ya, Mas.

Bukan, ini bukan ucapanku untuk suamiku. Kali ini bukan artikel romantis yang akan aku tuliskan di sini. Iya, aku janji. Tapi ini mengenai aku, suamiku, dan anak laki-laki itu.

Tadi malam, kami berbelanja di toko Pam*la 2. Kebetulan kami memang tinggal sangat dekat dengan toko itu. Hanya butuh waktu sekitar 5 menit berjalan kaki. Niat awal kami hanya ingin membeli beras, karena memang persedian beras sudah menipis. Tapi akhirnya banyak juga yang masuk ke keranjang belanja kami. Bahkan uang selembar yang sudah kami siapkan untuk membeli beras, akhirnya yang keluar dari dompet jadi berlembar-lembar. Tidak masalah, toh kami memang butuh. hehe…

Antrian di kasir lumayan panjang. Bahkan di 2 kasir yang disediakan, semuanya penuh. Kami harus menunggu cukup lama untuk mendapatkan giliran. Ketika kami hampir sampai pada giliran kami, ada seorang anak laki-laki, sekitar usia 10an tahun, mengantri di belakang kami. Entahlah, postur tubuhnya seperti anak kelas 4 atau 5 SD. Badannya kecil, wajahnya manis, memakai kaos jersey sepak bola entah dari klub apa. Dia menunggu antrian dengan tenang (atau mungkin hanya karena aku tidak melihat gerak-geriknya selama mengantri).

Ketika mbak-mbak depan kami selesai membayar, sampai giliran kami untuk membayar. Lalu anak itu berkata kepada kasir, “Mbak, yang celengan tadi jadi ya.” Entah apa maksudnya, mungkin tadi anak itu sudah ke sini, membeli 2 buah celengan, tapi tidak jadi dan akhirnya celengan yang 1 dikembalikan.

“Celengan yang tadi?” Anak itu mengangguk. “Abis ini ya. Berarti jadinya beli 2 sama yang kuning tadi?” mbak kasir bertanya lagi.

“Iya.” Anak itu mengangguk lagi.

“Sebentar ya,” kata mbak kasir lagi, sambil mengeluarkan barang-barang dari keranjang belanja kami. Anak itu mengangguk lagi.

“Itu duluan aja nggak apa-apa mbak.” kata suamiku. Sepertinya suamiku kasihan jika anak itu harus menunggu sampai selesainya kami membayar, sedangkan anak ini hanya butuh membayar 1 barang saja.

“Nggak apa-apa, Mas?” tanya mbak kasirnya.

“Ngak apa-apa” kata suamiku sambil tersenyum. Senyumnya manis sekali. Membuatnya semakin tambah tampan saja. Senyum itu yang bisa membuatku selalu jatuh cinta kepadanya setiap hari. Eh, maaf, ini bukan artikel romantis ya? Oke, kita kembali ke topik. :mrgreen:

Lalu mbak kasir menghentikan aktivitasnya mengeluarkan barang belanjaan kami dari dalam keranjang. Dia membungkuk, mengambil celengan yang dia taruh di laci bawah mejanya. Anak laki-laki itu membayar dengan selembar uang 20 ribuan. Setelah menerima kembalian, anak itu menoleh ke arah kami.

“Makasih ya, Mas,” katanya sambil tersenyum. Lalu dia pulang.

Sungguh, itu adalah hal yang tidak terduga. Aku pribadi tidak menyangka bahwa anak itu akan menyempatkan untuk berterima kasih dulu sebelum meninggalkan toko. Banyak anak yang entah takut atau memang kurang diajarkan untuk berterima kasih kepada orang lain. Tapi anak ini bisa, bahkan kepada orang yang belum dikenalnya.

Selama perjalanan pulang, sambil menggenggam lengan kanan suamiku, aku berbisik, “Aku terharu.”

“Kenapa?”

“Sama anak itu. Aku nggak nyangka dia bakal bilang makasih. Anak yang sopan.”

Suamiku tersenyum. Kami larut dalam pikiran kami masing-masing. Entah kenapa, hal sederhana seperti ini bisa menggerakkanku untuk mengapresiasi sikap anak itu dengan menuliskannya di sini. Mungkin sambil berharap semoga tidak sedikit anak yang sopan seperti itu, atau juga agar aku sendiri tidak melupakan hal ini.

🙂

khusnullutfiwordpresscom_thankyou

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s