Kesabaran Berbuah Manis

Entahlah, tapi itu yang aku rasain. Ini bukan tentang cinta-cintaan atau mainan baru. Tapi ini tentang pekerjaan, dan keluarga. Hal yang sempet bikin aku hampir putus asa sama semuanya.

Yah, sebagai permulaan. Sama seperti waktu nulis artikel ini contohnya. Udah ditulis panjang lebar, nggak tau udah berapa paragraf, eh lupa ngesave dan langsung shutdown. Kata-kata yang udah disusun rapi sebelumnya, nggak akan bisa ditulis lagi seperti semula. Nyesel? Ya, jelas. Tapi mau apa? Nggak jadi nulis? Percuma. Sabar aja, diulangi pelan-pelan, nantinya pasti bisa sampai juga ke tujuan. Pasti jadi manis –apa sih–

Masuk ke topic. Pekerjaanku di sini pindah-pindah divisi. Tugasnya juga beda-beda tiap divisi. Dan sebelum ini aku sempet masuk ke sekte sistem shift. Awalnya aku shock. Kaget dengan pekerjaanku. Kadang berangkat pagi, kadang pulang malem, dan yang pasti, hari minggu nggak libur. Buat aku itu berat banget, karena aku tipe anak rantau yang nggak totalitas. Ngekost, tapi tiap libur pulang kampung. Namanya juga rumah deket. Perjalanan Jogja – Magelang paling cuma sekitar 1 jam-an. Sayang kalo nggak pulang.

Aku selalu pengen nangis kalo inget masa-masa itu. Hari minggu, waktu aku berangkat ke kantor, di jalan ketemu sama anak-anak sepantaran lagi jalan-jalan, ketemu bapak-bapak lagi sepedaan, ketemu mbak-mbak lagi jogging keliling komplek, ketemu ibu-ibu pulang dari belanja dan bawa jajanan pasar. Miris rasanya. Harusnya aku juga lagi menikmati hari libur, di rumah, bareng keluarga. Bukannya di kantor dengan pekerjaan yang harus diselesaikan seharian.  –Walaupun sebenernya dari SMP-SMA sekolahku selalu libur hari Jumat–.

Kebetulan banget masa itu adalah masa yang sangat amat berat banget-banget-banget. Orang tuaku selalu nyuruh aku buat cari kerjaan lain. Karena memang kebetulan keadaan finansial kantor waktu itu memang lagi labil banget. Banyangin aja, orang tua mana yang tega, anaknya kerja sampe malem, dan nggak digaji. Tapi nggak tau kenapa, aku masih betah aja di sini. Di luar alasan bahwa aku trauma dengan profesiku sebelumnya, aku masih menikmati pekerjaanku di sini. Beruntung aku masih bisa berusaha untuk beranggapan bahwa, bekerja itu ibadah. Insya Allah, kalo aku sungguh-sungguh dan nggak ngeluh, aku akan mendapatkan yang setimpal bahkan yang lebih baik dari yang aku kerjakan.

Sabar, itu kuncinya. Setelah sekian lama, akhirnya ada titik terang. Aku terbebas dari jadwal shift. Dan gaji yang seharusnya dibayarkan kemarinpun sekarang sudah di tangan. Bersyukur banget rasanya. Bukan masalah gaji yang akhirnya diberikan setelah sekian lama, tapi karena akhirnya aku bisa merasakan kembali weekend bersama keluarga. Itu yang nggak akan tergantikan dengan seberapa rupiahpun.

Sekarang aku mulai bisa ikut kegiatan yang diadain di rumah. Bisa nonton kartun kesayangan yang tayang tiap minggu. Tapi yang bikin merasa bersalah, ibukku. Sekarang tiap aku pulang pasti disuruh nganter kemana-mana. Ibuk mau kondangan, jenguk temennya yang sakit, check up ke dokter, ke tempat sodara, pengajian, semuanya aku yang nganterin. Dan kalo ponakanku lagi nggak dateng ke rumah, aku pasti bobok bareng sama ibukku. Ya Allah… Ternyata aku udah membuang satu tahun kesempatanku buat berbakti sama ibukku sendiri. Sumpah aku pengen nangis kalo inget ini. Lebih dari satu tahun kemarin akun terlalu egois, aku terlalu memikirkan “yang penting aku masih bisa nyaman kerja di sini” –meskipun nggak digaji–. Ibukku udah berkali-kali nyuruh aku pindah kerja, cari yang nggak sampe malem, cari yang minggu bisa libur, tapi aku nolak. Dan ternyata ini semua yang aku lewatkan. Aku melewatkan masa-masa yang seharusnya bisa nemenin ibukku kemana-mana. Astaghfirullah…

Tapi semua itu sudah berlalu. Jadikan itu semua sebagai pengalaman dan pelajaran, bukan sebagai beban. Dan Alhamdulillah, atas kesabaran selama ini, pekerjaan yang sekarang aku ampu bisa membuat ibuku bangga. Ya, semoga aku bisa terus membahagiakan ibuku.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s